{"id":2764,"date":"2026-04-08T20:07:30","date_gmt":"2026-04-08T13:07:30","guid":{"rendered":"https:\/\/amiindonesia.net\/?p=2764"},"modified":"2026-04-08T22:05:23","modified_gmt":"2026-04-08T15:05:23","slug":"4-pelajaran-radikal-dari-kisah-ayub","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/amiindonesia.net\/?p=2764","title":{"rendered":"4 Pelajaran Radikal dari Kisah Ayub"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"2764\" class=\"elementor elementor-2764\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-941b171 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"941b171\" data-element_type=\"container\" data-settings=\"{&quot;background_background&quot;:&quot;classic&quot;}\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-659e749a elementor-widget elementor-widget-html\" data-id=\"659e749a\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"html.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<canvas id=\"snowCanvas\" style=\"position:fixed; top:0; left:0; pointer-events:none; z-index:9999;\"><\/canvas>\n\n<script>\n(function() {\n    var canvas = document.getElementById('snowCanvas');\n    var ctx = canvas.getContext('2d');\n    var flakes = [];\n\n    function resize() {\n        canvas.width = window.innerWidth;\n        canvas.height = window.innerHeight;\n    }\n\n    window.addEventListener('resize', resize);\n    resize();\n\n    function createFlakes() {\n        for (var i = 0; i < 100; i++) {\n            flakes.push({\n                x: Math.random() * canvas.width,\n                y: Math.random() * canvas.height,\n                r: Math.random() * 3 + 1, \/\/ ukuran salju\n                d: Math.random() * 1 \/\/ kerapatan\/kecepatan\n            });\n        }\n    }\n\n    function draw() {\n        ctx.clearRect(0, 0, canvas.width, canvas.height);\n        ctx.fillStyle = \"white\"; \/\/ warna salju\n        ctx.beginPath();\n        for (var i = 0; i < flakes.length; i++) {\n            var f = flakes[i];\n            ctx.moveTo(f.x, f.y);\n            ctx.arc(f.x, f.y, f.r, 0, Math.PI * 2, true);\n        }\n        ctx.fill();\n        move();\n    }\n\n    function move() {\n        for (var i = 0; i < flakes.length; i++) {\n            var f = flakes[i];\n            f.y += Math.pow(f.d, 2) + 1;\n            f.x += Math.sin(f.y \/ 30);\n\n            if (f.y > canvas.height) {\n                flakes[i] = { x: Math.random() * canvas.width, y: -10, r: f.r, d: f.d };\n            }\n        }\n    }\n\n    createFlakes();\n    setInterval(draw, 30);\n})();\n<\/script>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-1313266 e-con-full e-flex e-con e-child\" data-id=\"1313266\" data-element_type=\"container\" data-settings=\"{&quot;background_background&quot;:&quot;classic&quot;}\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-2b4f703a elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"2b4f703a\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p style=\"text-align: right;\"><span style=\"color: #000000;\">20 Februari 2026<\/span><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-24ea4926 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"24ea4926\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<h2 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\"><p class=\"MsoNormal\" style=\"line-height:normal\"><b><span style=\"font-size:24.0pt;,serif\">4 Pelajaran Radikal dari Kisah Ayub<\/span><\/b><span style=\"font-size: 1.875rem;font-style: inherit\"><\/span><\/p><\/h2>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-47d1c6d6 elementor-blockquote--skin-border elementor-widget elementor-widget-blockquote\" data-id=\"47d1c6d6\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"blockquote.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t<blockquote class=\"elementor-blockquote\">\n\t\t\t<p class=\"elementor-blockquote__content\">\n\t\t\t\t\"Seperti Ayub, iman yang dewasa berkata: Tuhan memberi, Tuhan mengambil, tetap terpujilah nama-Nya.\"\t\t\t<\/p>\n\t\t\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-8c6f75c elementor-widget elementor-widget-image\" data-id=\"8c6f75c\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"image.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/amiindonesia.net\/wordpress\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/1-1024x576.png\" class=\"attachment-large size-large wp-image-2766\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/amiindonesia.net\/wordpress\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/1-1024x576.png 1024w, https:\/\/amiindonesia.net\/wordpress\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/1-300x169.png 300w, https:\/\/amiindonesia.net\/wordpress\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/1-768x432.png 768w, https:\/\/amiindonesia.net\/wordpress\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/1.png 1200w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-77c5097 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"77c5097\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p><b>Mari kita pelajari keempat sahabat Ayub. Nama-nama mereka adalah sebagai berikut:<br><\/b>1. Elifaz orang Teman (Ayub 4:1)<br>2. Bildad orang Syuhit (Ayub 8:1)<br>3. Zofar orang Naamat (Ayub 11:1)<br>4. Elihu orang Buzi (Ayub 32:2)<br>Mereka adalah sahabat Ayub, tetapi lebih muda daripada Ayub (Ayub 30:1, 12). Di antara mereka, Elihu adalah yang paling muda (Ayub 32:6). Mereka bukan berasal dari daerah yang sama dengan Ayub (Ayub 1:1).<br>Mereka semua berbicara seolah-olah percaya kepada TUHAN (Yesus). Mereka mengetahui bahwa Ayub adalah orang terbesar di antara semua orang di Timur (Ayub 1:3). Mereka juga tahu bahwa Ayub adalah orang yang tidak bercela dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Ayub 1:1). Dengan kata lain, mereka mengenal Ayub sebagai seorang pemimpin yang saleh.<br>Namun demikian, hati mereka tidak sepenuhnya sama. Mereka memiliki sikap yang bimbang terhadap Ayub.<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Kedatangan Sahabat-Sahabat Ayub<\/h3>\n<p>Di tengah situasi tersebut, mereka mendengar kabar tragis tentang Ayub. Secara lahiriah mereka sangat berduka dan memutuskan untuk mengunjunginya untuk menghiburnya.<br>Ketika mereka tiba di rumah Ayub dan melihat keadaannya, mereka sangat terkejut. Tiga sahabat pertama bereaksi lebih dulu. Masing-masing merobek jubahnya, menaburkan debu di atas kepalanya ke arah langit, dan menangis dengan keras. Mereka tinggal bersama Ayub selama tujuh hari untuk menghiburnya (Ayub 2:11-13).<br>Ayub sangat menderita. Di hadapan ketiga sahabatnya, ia mencurahkan kesedihannya:<br>\u201cSeandainya aku tidak pernah dilahirkan. Seandainya aku mati di dalam kandungan ibuku. Aku tidak tahu mengapa aku dilahirkan.\u201d<br>(Ayub 3:1-26)<br>Namun perkataan itu bukanlah isi hati Ayub yang sebenarnya.<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Pengakuan Iman Ayub yang Sejati<\/h3>\n<p>Hati Ayub yang sejati telah dinyatakan sebelumnya, yaitu segera setelah ia kehilangan semua harta miliknya serta ketujuh putra dan ketiga putrinya.<br>Pada saat itu ia mengakui imannya kepada TUHAN (Yesus):<br>\u201cDengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.<br>TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN.\u201d<br>(Ayub 1:21)<br>Inilah hati sejati Ayub dan pengakuan imannya.<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Spiritualitas Ayub<\/h3>\n<p>Apa yang dapat kita pelajari dari hati Ayub?<br>Kita melihat bahwa ia adalah orang yang memiliki \u201cpenglihatan seperti elang.\u201d Ia sepenuhnya mengakui kedaulatan Allah (Roma 9:6-23). Ia juga memahami bahwa dirinya hanyalah seorang peziarah yang tinggal sementara di dunia ini (Ibrani 11:13; 1 Petrus 2:11).<br>Bahkan di tengah penderitaan yang begitu besar, ia tetap memuji nama TUHAN (Ayub 1:21). Dari sini kita melihat bahwa Ayub adalah seorang \u201cmurid yang luar biasa\u201d di Sekolah Tujuan Penciptaan\u2014sebuah momen rohani yang dapat disebut sebagai \u201cA-ha!\u201d<br>Inilah spiritualitas Ayub.<br>Tidak semua orang Kristen memiliki spiritualitas seperti ini. Ketiga sahabat Ayub tidak memilikinya. Demikian pula sahabat keempat, Elihu. Tingkat kerohanian mereka jauh lebih rendah dibandingkan dengan Ayub.<br>Mereka datang untuk menghibur Ayub, tetapi yang mengejutkan, mereka tidak memberikan kata-kata penghiburan yang hangat. Sebaliknya, mereka menegurnya dengan firman Tuhan dan menuduh bahwa penderitaannya adalah akibat dosa.<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Tuduhan Sahabat-Sahabat Ayub<\/h3>\n<p>Mereka mendesak Ayub untuk bertobat dan bersikeras bahwa ia menderita karena telah berdosa.<br>Ayat-ayat yang menunjukkan hal ini antara lain:<br>Ayub 4:18; 5:25\u201327; 8:6, 18\u201322; 11:14; 22:21\u201330; 33:12.<br>Ayub tidak setuju dengan tuduhan mereka (Ayub 6:25\u201330; 16:17). Ia mengetahui bahwa mereka sebenarnya tidak bijaksana (Ayub 17:10). Ia juga menyadari bahwa tingkat kerohanian mereka lebih rendah darinya. Teguran mereka justru memperparah penderitaannya.<br>Walaupun demikian, Ayub tetap menanggung semua teguran mereka selama tujuh hari dalam diam (Ayub 2:13). Hal ini terjadi karena kasih karunia TUHAN (Yesus).<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Rahasia Spiritualitas Ayub<\/h3>\n<p>Lalu muncul sebuah pertanyaan penting:<br>Bagaimana Ayub dapat memiliki spiritualitas seperti itu?<br>Pengakuan iman seperti yang ia ucapkan bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Itu bahkan tampak bertentangan dengan akal sehat manusia.<br>Jarang sekali kita melihat orang Kristen yang mampu mengucapkan pengakuan seperti itu, terutama setelah kehilangan seluruh harta benda dan anak-anak yang dikasihi.<br>Dari sudut pandang manusia, Ayub mungkin tampak tidak normal. Namun sebenarnya Ayub adalah seorang pengamat berdimensi tinggi. Ia memiliki \u201cperspektif elang.\u201d<br>Ia melihat gambaran besar di masa depan, yaitu berkat ganda dari Tuhan dan rencana Allah yang lebih besar.<br>Karena itu ia berkata:<br>\u201cSesudah Ia menguji aku, aku akan keluar seperti emas.\u201d<br>(Ayub 23:10)<br>Ayub memahami bahwa Tuhan sedang melatihnya melalui penderitaan.<br>Namun ketiga sahabatnya tidak dapat memahami perspektif ini.<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Kutukan dari Bildad dan Zofar<\/h3>\n<p>Bildad berkata kepada Ayub:<br>\u201cAyub! Akuilah dosamu. Engkau bukan orang yang murni dan jujur. Jika engkau benar-benar murni dan jujur, masa depanmu pasti akan diberkati.\u201d<br>(Ayub 8:6-7)<br>\u201cBertobatlah. Jika tidak, engkau akan binasa. Allah tidak menolak orang yang bertobat.\u201d<br>(Ayub 8:18-20)<br>Ia bahkan berkata dengan keras:<br>\u201cAyub, engkau seperti binatang buas!\u201d<br>(Ayub 18:3)<br>\u201cEngkau jahat.\u201d<br>(Ayub 18:7-8)<br>\u201cKelaparan dan kehancuran akan menimpamu, dan engkau akan turun ke Sheol sebagai orang jahat.\u201d<br>(Ayub 18:12, 16-21)<br>Demikianlah Bildad menegur dan mengutuk Ayub.<br>Zofar juga melakukan hal yang sama:<br>\u201cAyub! Engkau terlalu banyak bicara!\u201d<br>(Ayub 11:2)<br>\u201cEngkau tidak suci!\u201d<br>(Ayub 11:4)<br>\u201cBertobatlah!\u201d<br>(Ayub 11:14)<br>\u201cJika engkau bertobat, damai sejahtera akan diberikan kepadamu.\u201d<br>(Ayub 11:18)<br>Bahkan ia menuduh Ayub sebagai orang jahat dan munafik (Ayub 20:5).<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Tentang Elihu<\/h3>\n<p>Kemudian kita melihat sahabat keempat, Elihu.<br>Ia digambarkan sebagai orang yang berbicara kata-kata tanpa pengetahuan dan sebagai orang yang mengaburkan nasihat (Ayub 38:2; 42:3). Dengan kata lain, ia membuat firman Tuhan menjadi tidak jelas.<br>Ketiga sahabat yang lain pada akhirnya diampuni oleh Tuhan (Ayub 42:7-10), tetapi tidak ada catatan bahwa Elihu menerima pengampunan.<br>Tuduhan keempat orang ini semakin memperparah penderitaan Ayub. Mereka datang untuk menghibur, tetapi justru menambah luka dalam hatinya.<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Pengampunan Ayub<\/h3>\n<p>Namun ada sesuatu yang luar biasa.<br>Ayub tetap menerima ketiga sahabatnya, memeluk mereka, dan mengampuni mereka. Pengampunan ini menyenangkan hati TUHAN (Yesus). Karena itu TUHAN memulihkan keadaan Ayub dan memberinya berkat dua kali lipat (Ayub 42:7-10).<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Bagaimana Ayub Bisa Mengampuni?<\/h3>\n<p>Pertanyaan berikutnya adalah:<br>Bagaimana Ayub mampu mengampuni mereka?<br>Mereka telah melukai harga dirinya dan menanamkan akar pahit di dalam hatinya (Ibrani 12:15). Secara manusia, pengampunan tampaknya mustahil.<br>Namun Ayub mengampuni mereka tanpa syarat.<br>Ketika TUHAN memerintahkannya untuk mengampuni mereka, ia taat tanpa protes sedikit pun (Ayub 42:7-9).<br>Hal ini terjadi karena Ayub memiliki pandangan seperti elang. Ia melihat gambaran besar dari rencana Allah. Ia melihat bahwa semua penderitaan itu adalah bagian dari pelatihannya.<br>Ketika seseorang melihat gambaran besar Kerajaan Allah, masalah-masalah kecil akan tampak sangat kecil di bawah kakinya.<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Visi Besar Kerajaan Allah<\/h3>\n<p>Para murid Yesus, rasul Paulus, dan rekan-rekan pelayanannya juga memiliki visi besar seperti ini.<br>Mereka melihat kehidupan dari perspektif Kerajaan Allah (Matius 5:3,10).<br>Karena itu mereka menjalani hidup yang penuh pengampunan dan damai sejahtera. Mereka hidup sebagai orang yang merindukan tanah air surgawi (Ibrani 11:16).<br>Paulus menjelaskan hal ini kepada jemaat yang menderita:<br>\u201cJanganlah kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Maka damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.\u201d<br>(Filipi 4:6-7)<br>Mereka yang melihat gambaran besar Kerajaan Allah akan mengalami damai sejahtera ini.<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Pelajaran dari Kehidupan Ayub<\/h3>\n<p>Dari kehidupan Ayub kita belajar bahwa:<br>Di tengah penderitaan, penganiayaan, dan harga diri yang terluka, pengampunan, ucapan syukur, dan damai sejahtera tetap dapat hadir.<br>Karakter ini diwariskan kepada para murid Yesus, kepada Paulus, dan kepada gereja sepanjang dua ribu tahun sejarahnya.<br>Karakter ini terus diwariskan kepada para calon mempelai Kristus di seluruh dunia hingga hari ini.<br>Suatu hari nanti mereka semua, termasuk Ayub, akan berkumpul dalam Perjamuan Kawin Anak Domba (Wahyu 19:7-10).<br>Mereka akan memerintah bersama Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun (Wahyu 20:4,6) dan dalam Langit Baru dan Bumi Baru (Wahyu 21:24; 22:5).<br>________________________________________<\/p>\n<h3>Doa Penutup<\/h3>\n<p>Doa saya adalah agar semua anggota tim AMI dan semua pembaca dapat memasuki tingkat Mempelai ini.<br>Untuk menjadi seperti Ayub dan seperti Paulus, kehidupan pengampunan harus menjadi sifat alami. Kehidupan ucapan syukur dan damai sejahtera juga harus menjadi sifat alami dalam hidup kita.<\/p><p><br><\/p>\n<p>By.&nbsp;<b>Ps. Thomas Hwang<\/b><\/p>\n<p><b>&nbsp;<\/b><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>20 Februari 2026 4 Pelajaran Radikal dari Kisah Ayub &#8220;Seperti Ayub, iman yang dewasa berkata: Tuhan memberi, Tuhan mengambil, tetap terpujilah nama-Nya.&#8221; Mari kita pelajari keempat sahabat Ayub. Nama-nama mereka adalah sebagai berikut:1. Elifaz orang Teman (Ayub 4:1)2. Bildad orang Syuhit (Ayub 8:1)3. Zofar orang Naamat (Ayub 11:1)4. Elihu orang Buzi (Ayub 32:2)Mereka adalah sahabat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"elementor_canvas","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2764","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-epistolari"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/amiindonesia.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2764","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/amiindonesia.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/amiindonesia.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/amiindonesia.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/amiindonesia.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2764"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/amiindonesia.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2764\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2773,"href":"https:\/\/amiindonesia.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2764\/revisions\/2773"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/amiindonesia.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2764"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/amiindonesia.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2764"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/amiindonesia.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2764"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}